Google+ Followers

Minggu, 21 Juli 2013

DEMOKRASI DELIBERATIVE



Mungkinkah bercita-cita terbentuknya Demokrasi Deliberatif di Indonesia melalui proses Pilkada?
Mungkin saja, tetapi syaratnya cukup berat untuk bisa terpenuhi. Meski hanya tiga syarat yang diajukan, tetapi ketiganya tak mungkin bisa dicapai dalam waktu singkat. Butuh proses panjang demokratisasi masyarakat.
Demokrasi deliberatif katanya membutuhkan setidaknya tiga syarat (1) Pengaruh: kemampuan suara/aspirasi warga untuk mempengaruhi kebijakan dan pembuatan keputusan publik; (2) Keterbukaan: perwakilan warga, keterbukaan pandangan dan nilai-nilai yang beragam, serta kesempatan yang sama untuk berpartipasi; (3) Deliberasi: komunikasi terbuka, akses informasi yang setara, ruang untuk memahami dan membingkai ulang berbagai isu sesuai kepentingan, saling menghormati, dan gerakan menuju konsensus.
PENGARUH
suara warga, saat ini sering diartikulasikan dalam bentuk demonstrasi di lapangan. Suara-suara atau aspirasi yang disampaikan secara tertulis, melalui forum dengar pendapat dengan anggota dewan atau pihak eksekutif, sering mentok di meja diskusi. Melalui tekanan massa, barulah suara-suara publik itu “didengar” atau menjadi pertimbangan para pembuat kebijakan.

Demonstrasi penolakan BBM, penolakan ini itu, dukungan terhadap ini itu, ketika turun ke jalan dan mengundang perhatian publik yang luas, baru membawa dampak terhadap pengambilan kebijakan. Sementara, diskusi-diskusi di ruangan, seringkali hanya menjadi catatan notulensi yang tak ditengok kembali saat keputusan diambil. Lihat saja contohnya, Kurikulum 2013. Sudah berapa kali diskusi dengan para pemangku kepentingan, kritik sudah diajukan, tetapi pengambil keputusan maju terus pantang mundur. Suara publik tenggelam oleh arogansi penguasa.
Selama penguasa masih tutup kuping, tak merasa “suara rakyat adalah suara Tuhan”, dan menganggap dirinyalah yang paling benar, maka selesailah sudah pembicaraan kita tentang demokrasi. Penguasa itu sudah tidak legitimate di hadapan publik, artinya sudah keluar dari kerangka demokrasi. Kalaupun ia mau mendengarkan suara-suara yang cocok di telinganya saja, itupun bukan demokrasi yang kita bayangkan. Demokrasi deliberatif membangun konsesnsus dari berbagai elemen, mendiskusikannya, membuat kesepakatan tanpa memarjinalkan satu kelompok pun.

KETERBUKAAN
antar peserta dalam diskusi masih perlu pendewasaan. Lihat saja debat-debat publik dalam acara-acara televisi, hampir tak pernah menyentuh substansi, tetapi lebih banyak mempercakapkan hal-hal bersifat trivial. Kemana seni berdebat secara demokratis yang diimpikan Aristoteles?
Aristoteles padahal pernah menyebutkan, Justice consists in giving people what they deserve, and that a just society is one that enables human beings to realize their highest nature and to live the good life. Political activity is not merely a way to pursue our interests, but an essential part of the good life.
Debat-debat yang terbuka, seharusnya mengundang berbagai pandangan yang substantif mengenai suatu isu. Bagaimana mungkin memperdebatkan Ahmadiyah, tanpa memberi ruang pada kalangan Ahmadiyah sendiri untuk mengajukan argumennya?
Bagaimana mungkin debat-debat terbuka bisa dilakukan, kalau peserta debatnya tidak mengindahkan kesetaraan antar pesertanya? Atau bahkan melibatkan kekerasan dan intimidasi kepada lawan bicara? Yang lebih parah, seringkali dialog publik berangkat dari apa yang menurut saya paling benar, dan hanya itulah satu-satunya kebenaran. Lalu ia sibuk memperjuangkannya, tanpa melihat kemaslahatannya untuk publik yang lebih luas.
Sebagai syarat kedua dalam Demokrasi Deliberatif, keterbukaan ini membutuhkan kedewasaan dalam berdialog, saling memahami argumen, bukan sekedar menyerang argumen orang lain. Sikap empati sangat dibutuhkan, melihat pandangan orang lain dengan mendudukkan diri sendiri dalam posisi tersebut. Hanya dengan cara ini seseorang bisa memahami perbedaan pendapat, dan memahami substansi di balik perbedaan tersebut. Yang tak kalah penting tentu saja, bagaimana menempatkan kualitas terbaik kehidupan bermasyarakat sebagai dasar untuk membuat keputusan. Bukan sekedar untuk menang dalam debat, atas dasar kekuatan jumlah, atau adu kekuatan fisik.
DELIBERASI,
terutama kaitannya dengan informasi, juga masih jauh panggang dari api. Meski UU KIP telah disahkan, dan sudah mulai harus dijalankan oleh badan publik sejak tahun 2010, nyatanya tak banyak SKPD atau badan publik lain yang patuh. Komisi Informasi kebanjiran permintaan sengketa, yang rata-rata berawal dari tidak siapnya badan publik melayani permintaan informasi.
Ruh keterbukaan informasi yang membalik paradigma dari era ketertutupan menjadi era keterbukaan, belum sepenuhnya dipahami oleh badan publik. Mereka tak sadar bahwa informasi yang dikelola, adalah milik publik sesuai aturan UU, dan hanya dikecualikan kalau memenuhi persyaratan yang diajukan oleh UU yang sama. Hingga saat ini, masih banyak badan publik yang menolak permintaan informasi, dengan alasan sang peminta informasi tidak memenuhi legal standing, padahal UU hanya mensyaratkan pemohon informasi adalah warga negara Indonesia, yang dibuktikan dengan SIM atau KTP.
Masih banyak pula yang menganggap, informasi yang dirilis oleh badan tertentu, sudah cukup untuk menilai sebuah badan publik. Sebutlah berbagai predikat yang diberikan oleh BPK terkait pemeriksaan keuangan yang dilakukan terhadap pemerintah. Wajar Tanpa Pengecualian, kemudian dijadikan tameng atas kualitas transparansi anggaran publik. Padahal, sama sekali tak pernah ada pemberitahuan ke publik mengenai rencana anggaran dalam APBD/APBN, sehingga tak ada publik yang bisa mengawasinya. Ketika kongkalikong eksekutif dan legislatif terjadi dalam APBD/APBN, hancurlah pengelolaan anggaran publik, oleh segelintir elite yang menguasai informasi.
Ketika demokrasi deliberatif diharapkan terjadi, maka masyarakat yang diberdayakan memang harus mendapat ruang untuk mendiskusikan isu-isu publik secara kritis dan cerdas, melibatkan semua cara pandang dalam masyarakat. Tetapi mendudukkan cara pandang yang berbeda dalam satu forum warga, memang tak mudah, meski bukan suatu hal yang mustahil dilakukan.
Perlu diperbanyak fasilitator-fasilitator diskusi yang baik, yang mampu mendorong dialog-dialog sehat tanpa intimidasi, tanpa pretensi untuk memihak pada kelompok tertentu saja. Dan ini adalah peran pemimpin yang seringkali dilupakan. Pemimpin yang baik, seharusnya bisa menjadi fasilitator bagi warganya, bukan sekedar memberi perintah dari atas ke bawah, juga memberi teladan kepada rakyat, bagaimana mengatasi perbedaan pendapat, yang niscaya akan selalu ada.
Tantangan-tantangan yang dihadapi Demokrasi Deliberatif ini, bisa ditembus dengan pemimpin yang mau secara revolusioner mempraktekkan cara pandang ini. Ia harus berani turun langsung ke jantung persoalan, di depan publik, secara transparan, dan tanpa diskriminasi.

Kamis, 17 Januari 2013

Banjir di Ibukota



Jakarta sebagai ibu kota negara kini sudah tidak ideal lagi. Kota ini menyimpan segudang masalah. Mulai dari kemacetan akut, kepadatan penduduk, pembangunan tak terencana hingga banjir yang selalu mengintai jika musim hujan datang.

Presiden Soekarno pada tahun 1950-an sudah meramalkan Jakarta akan tumbuh tak terkendali. Soekarno dulu punya mimpi memindahkan ibu kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Mengapa Palangkaraya? Ada beberapa pertimbangan Soekarno. Pertama Kalimantan adalah pulau terbesar di Indonesia dan letaknya di tengah-tengah gugus pulau Indonesia. Kedua menghilangkan sentralistik Jawa.

Selain itu, pembangunan di Jakarta dan Jawa adalah konsep peninggalan Belanda. Soekarno ingin membangun sebuah ibu kota dengan konsepnya sendiri. Bukan peninggalan penjajah, tapi sesuatu yang orisinil.

"Jadikanlah Kota Palangkaraya sebagai modal dan model," ujar Soekarno saat pertama kali menancapkan tonggak pembangunan kota ini 17 Juli 1957.

Satu hal lagi, seperti Jakarta yang punya Ciliwung, Palangkaraya juga punya  punya sungai Kahayan. Soekarno ingin memadukan konsep transportasi sungai dan jalan raya, seperti di negara-negara lain.

Soekarno juga ingin Kahayan secantik sungai-sungai di Eropa. Di mana warga dapat bersantai dan menikmati keindahan kota yang dialiri sungai.

"Janganlah membangun bangunan di sepanjang tepi Sungai Kahayan. Lahan di sepanjang tepi sungai tersebut, hendaknya diperuntukkan bagi taman sehingga pada malam yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah pada saat orang melewati sungai tersebut," kata Soekarno.

Untuk mewujudkan ide itu Soekarno bekerjasama dengan Uni Soviet. Para insinyur dari Rusia pun didatangkan untuk membangun jalan raya di lahan gambut. Pembangunan ini berjalan dengan baik.

Tapi seiiring dengan terpuruknya perekonomian Indonesia di awal 60an, pembangunan Palangkaraya terhambat. Puncaknya pasca 1965, Soekarno dilengserkan. Soeharto tak ingin melanjutkan rencana pemindahan ibukota ke Kalimantan. Jawa kembali jadi sentral semua segi kehidupan.

Kini Jakarta makin semrawut, sementara pembangunan di  Palangkaraya berjalan lambat. Hampir tak ada tanda kota ini pernah akan menjadi ibukota RI yang megah.

Hanya sebuah monumen berdiri menjadi pengingat Soekarno pernah punya mimpi besar memindahkan ibukota ke Palangkaraya.

Rabu, 16 Januari 2013

Makalah Teori Sejarah

TEORI SEJARAH
Makalah ini disusun sebagai tugas persyarat ujian semester ganjil pada mata kuliah pengantar ilmu sejarah












Disusun oleh :
WAHYUDIN ARIEF
111202200087



JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2012






KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim.
            Alahmdulillah, puji syukur ke hadirat Allah swt. Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “TEORI SEJARAH” dapat dirampungkan.
            Sebgaimana tertera di cover, makalah ini dibuat sebagai syarat mengikuti ujian semester ganjil dan menjadi kewajiban bagi para mahasiswa, makalah ini merupakan kumpulan dari beberapa referensi yang ada. Makalah ini membahas tentang “teori sejarah”, dizaman moderen ini keadaran sejarah akan membuat suatu bangsa lebih memahami situasi historisnya. Manfaat sejarawan modern dalam hal ini terletak pada perluasan dimensi-dimensi pemahaman masyarakat akan masa kini serta kemungkinan-kemungkinan yang terkandung dalam masa depan, dan dengan demikian membuka jalan terhadap hubungan yang positif dan kreatif dengan realitas, dan dengan demikian juga dengan sejarah
            Pemakalah perlu menyadari bahwa isi makalah ini dihadapan pembaca masih memerlukan perbaikan dan pengembangan guna mencapai sebuah makalah yang representatif.Oleh karena itu, keritik dan saran perbaikan senantiasa diharpakan dengan senang hati.
            Akhirnya, tidak lupa pemakalah mengucapkan “JazakumullahBikhairKhairaJaza” kepada teman-teman yang telah bersedia memberi bantuannya. Dan tak lupa pula saya ucapkan banyak terima kasih sebagai dosen mata kuliah “Pengantar Ilmu Sejarah” yang selalu memotifasi dan mengarahkan, sehingga makalah ini dapat diselesaikan.




                                                                                                            Ciputat, 27 Desember


                                                                                                            WAHYUDIN ARIEF




DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................        i
Dafar isi ...............................................................................................................        ii
BAB I ............................................................................................      1
A.   Latar Belakang .....................................................................      1
BAB II ..........................................................................................      2
A.   Pengertian Teori ........................................................................................        2
B.   Kriteria Teori ............................................................................................        3
C.   Ruang Lingkup Kajian Teori ..................................................................        3
D.   Teori Mengenai Sintesis Sejarah ..............................................................        4
E.     Teori Gerak dan Aliran Sejarah .............................................................        5
1.      Pengertian-Pengertian Dasar Gerak Sejarah..........................................        5
2.      Gerak Sejarah Menurut Hukum Fatum .................................................        5
3.      Aliran Syclis ..........................................................................................        6
F.     Pandanga/Teori Sejarah ...........................................................................        7
1.      Pandangan Sejarah Menurut Ibn  Khaldun ...........................................        8
2.      Menurut Pitirim A, Sorokin ..................................................................        9
3.      Teori Sejarah Menurut Wiliam H. Frederick .........................................        9
G.    Fungsi Sejarah ...........................................................................................        10
H.    Penutup ......................................................................................................        11

Daftar Pustaka .................................................................................................        12
     

            
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Seringkali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari ada seorang berkomentar “itukan hanya teori”, tetapi kenyataannya tidak begitu. Betulkah ada pertentangan anatar teori dan kenyataann? Sesunggunhnya teori tidak bertentangan dengan kenyataan. Karena komentar itu berkaitan dengan jawaban terhadap suatu problema. Apabila menghadapi suatu problema maka kita akan mengembangkan jawaban-jawaban sementara berdasarkan pengalaman atau bukti-bukti awal yang kita peroleh. Secara sadar atau tidak usaha memecahkan suatu problema merupakan suatu kegiatan berteori.
Berteori adalah aktivitas mental untuk mengembangkan ide yang dapat menerangkan mengapa dan bagaimana suatu itu bisa terjadi. Namun demikian berteori tidak sama dengan teori itu sendiri, karena berteori masih merupakan “suatu jawaban sementara terhadap suatu problema” atau disebut hipotesa. Jadi “hipotesa” adalah “teori” yang masih memerlukan bukti-bukti empiris lebih lanjut
Harus diakui bahwa masalah sebab-musabab sejarah pada pokoknya belum dipecahkan dan dalam paraf perkembangan sekarang dalam pengetahuan kita, suatu pertimbangan mengenai benar atau salah, cerdas atau tidak cerdas, mencukupi atau tidak mencukupi, baik atau buruk, niscayalah didasarkan atas kriteria yang masih diperdebatkan.












BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Teori
      Kerlinger berpendapat teori adalah sekumpulan konsep, definisi dan proposisi yang saling kait-mengkait yang menghadirkan suatu tinjauan secara sistematis atas fenomena yang ada dengan menunjukan secara spesifik hubungan-hubungan diantra variabel-variabel yang terkait dalam fenomena. Dengan kata lain teori adalah sekumpulun proposisi yang menunjukan dengan kausal dianatara konsep dan variabel yang terkandang dalam proposisi tersebut.[1]
            Dengan demikian, suatu teori harus :
1.    Terdiri dari konsep, definisi, dan proposisi
2.    Ada hubungan logis diantara konsep-konsep, definisi-definisi, dan proposisi-proposisi
3.    Hubungan-hubungan tersebut mencerminkan fenomena sosail,
4.    Teori dapat digunakan untuk eksplanasi dan prediksi.
Teori perlu dinyatakan dalam bentuk abstrak agar bisa digenalisir dalam kasus yang lebih luas, yang meliputi ruang dan waktu yang berbeda. Namun, karena teori dinyatakan dalam bentuk abstrak maka harus ada definisi oprasional agar tercapai penafsiran yang sama, disamping harus ditopeng dengan fakta-fakta.[2]
Dalam penulisan sejarah yang bersifat ilmiah dimaksudkan untuk menemukan dan melaporkan kebenaran suatu peristiwa sejarah. Tetapi masa lampau yang sesungguhnya tidak akan pernah ditemukan kembali sepenuhnya sebagai mana peristiwa itu terjadi, untuk menyelesaikan study sejarah seperti ini maka para ahli mengunakan beberapa cara pendekatan antara lain pendekatan objektif, (Louis Gottschalk, 1974: 144) yaitu setiap jenis exsposisi, atau kisah, fakta-fakta sejarah harus (1) disleksi, (2) disusun, (3) diberi atau dikurangi tekanannya, dan (4) ditempatkan dalam suatu urut-urutan kausal dan masing-masing diantara proses-proses itu memiliki komplikasi-komplikasinya sendiri.
Jika prosedur kerja seprti ini ditempuh oleh ilmuan/sejarawan kemudian dianalisis, diuraikan mulai dari kenyataan. Fakta-fakta empirik menggenerelisasikan dan kambali menguraikan kedalam sub-sub generalisasi, digeneralisasi kembali. Dari Generalisasi inilah menciptakan suatu teori.
Jadi teori adalah hulu atau sumber suatu proposisi ilmiah. Cara mengujinya adalah melalui prosedur penelitian dengan menggunakan asumsi/hipotesis-hipotesis kemudian diuji/dibuktikan berdasarkan data-data yang dikumpulkan. Jika uji hipotesis benar maka teori dipertahankan, Sebaliknya jika ternyata hipotesis tidak terbukti maka penelitian bisa dilanjutkan dan akhirnya dapat menciptakan suatu teori baru.

B.Kriteria Teori
            Menurut Black dan Champion[3], suatu teori dapat diterima dengan dua kriteria: (a) kriteria ideal dan (b) kriteria pragmatis. Berdasarkan kriteria ideal, suatu teori harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.    Sekupulan ide yang dikemukakan mempunyai hubungan logis dan komsisten
2.    Sekumpulan ide-ide yang dikemukakan harus mencakup seluruh variabel yang diperlukan untuk menerangkan fenomena yang dihadapi.
3.    Kumpulan ide-ide tersebut mengandung proposisi-proposisi dimana ide yang satu dengan ide yag lain tidak tumpang tindih.
4.    Kumpulan ide-ide tersebut harus dites secara empiris.

Sedangkan berdasarkan kriteria pragmatis, ide-ide dapat dikatakan sebagai teori jika ide-ide tersebut memiliki:
1.    Asumsi dan pradigma.
2.    Frame of Reference, yakni “kerangka pikir” yang mengidentifikasi aspek-aspek kehidupan sosial yang akan di uji secara empiris.
3.    Konsep-konsep , yakni abstraksi atau simbol sebagai wujud suatu ide.
4.    Variabel, yakni penjabaran konsep yang mengandung dimensi.
5.    Proposisi, yakni hubungan antar konsep
6.    Hubungsn ysng sistematis dan bersifat kausal diantara konsep-konsep dan proposisi-proposisi tersebut.

C.Ruang Lingkup Kajian Teori[4]
      Sejarah selalu dikaitkan dengan kenyataan, yaitu berupa kejadian pada masa silam. Selaku sebuah cerita, sejarah memberitakan sesuatu keadaan yang sebetulnya terjadi, dibedakan dari dongeng yang juga berbentuk cerita, tetapi hanya sekedar pelipur lara. Kejadian-kejadian yang dimunculkan dalam dongeng tidak lain dari khayalan penyusun cerita tersebut.
            Dalam cerita sejarah, sumbernya ialah kejadian asa silam berdasarkan peninggalan sejarah. Peninggalan itu berupa hasil perbuatan manusia sebagai makhluk sosial. Peristiwa demi peristiwa dirangkaikan oleh penulis sejarah sehingga terciptalah sebuah cerita. Interpretasi penulis tidak  dapat dielekan dalam pekerjaan penulis itu. Walaupun demikian, penulis sejarah yang baik tidak seenknya menyusun sebuah sejarah. Ia selalu bersandar pada sebuah kenyataan, dalam bentuk peninggalan atau dokumen/sumber sejarah.
            Ditinjau dari sudut masuknya diri penulis kedalam penyusunan sejarah, serta pencatatan peristiwa demi peristiwa, maka dalam penulisan sejarah dikenal dengan adanya (1) sejarah subjektif, dan (2) sejarah objektif. Kedua istilah ini tampaknya amat terpisah dan bertentangan. Sejarah subjektif erat hubungannya dengan penyusunan cerit sejarah,  pekerjaan merangkaikan peristiwa agar dapat dipahami oleh semua orang.
            Oleh karena bila hanya dengan memunculkan peristiwa saja berdasarkan sumber/dokumen sejarah (sejarah objektif), maka belumlah dikatakan sumber cerita sejarah. Cerita sejarah (sejarah subjektif) erat hubungannya dengan fakta sejarah (sejarah objektif).

D.Teori-Teori Mengenai Sintesis Sejarah[5]
        Apa yang diusahakan  bersama-sama oleh sejarawan sebagai suatu kelompok adalah memberikan pertelaan yang selangkap mengenai masa lampau manusia. Tujuan dari pada historiografi pada tarafnya yang tertinggi (yang pasti tidak dapat dicapai) adalah menciptakan kembali totalitas daripada fakta sejarah dengan suatu cara yang tidak memperkosa masa lampu yang sesungguhnya. Dalam artian itu, andaikata mungkin, historiografi boleh jug bersifat ilmiah, yakni dimaksudkan untuk menemukan dan melaporkan kebenaran. Tetapi seprti kita lihat masa lampau yang sesungguhnya tidak akan pernah dapat terulang kembali sepenuhnya dalam pikiran manusia. Para ahli bahkan berbeda paham mengenai bagaimana caranya mendekati masa lampau yang sesungguhnya itu.  Ada beberapa orang yang percaya bahwa pendekatan objektif adalah mungkin, ada orang lain yang tetap mempertahankan historiografi  merupakan sen, yang diberi oleh filsafat, ketermpilan, pengajaran, dan ingatan yang subjektif, masih ada orang lain lagi yang menganggap bahwa tekanan-tekanan yang tepat mengenai trend-trend utama daripada sejarah memberikan landasan bagi pengaturan fakta-fakta yang sebaik-baiknya, mungkin saja bahwa semua pendapat itu sebagiannya benar.

E.Teori Gerak dan Aliran Sejarah
   I.Pengertian-Pengertian Dasar Gerak Sejarah
            Untuk memudahkan gerak sejarah, masalah tersebut harus dipandang khusus mengenai manusia. Bagaimanakah manusia memandang diri sendiri? Sejarah adalah sejarah manusia, peran sejarah hanya manusia saja, penulis sejarah manusia juga, peminat sejarah juga manusia, maka mausialah yang harus dipandang sebagai inti masalah tersebut. Oleh kerena itu, dapatlah dimengerti bahwa munculnya masalah itu dipandang sebagai akibat pendapat manusia tentang dirinya, yaitu:
a. manusia bebas menentukan nasibnya sendiri, dengan istilah internasional otonom
b. manusia tidak bebas menentukan nasibnya, nasib manusia ditentukan kekuatan di luar kekuatan dirinya, manusia disebut heteronom.
Faham bahwa manusia itu otonom dalam istilah filsafat disebut indeterminism dan faham heteronom disebut determinism. Pada umumnya manusia lebih condong menerima kekuatan di luar pribadinya daripadaa ia percaya bahwa segala sesuatu ditentukan oleh dirinya sendiri. Masalahnya berkisar pada pertanyaan, siapakah yang menentukan nasibnya? Penentu nasib manusia adalah:
a. alam sekitar beserta isinya
b. kekuatan x (tidak dikenal)
c. Tuhan
   II.Gerak Sejarah Menurut Hukum Fatum
            Alam fikiran Yunani menjadi dasar alam fikiran Barat. Salah satu sendi penting adalah anggapan tentang manusia dan alam. Pada dasarnya alam raya sama dengan alam kecil, yaitu manusia, macro cosmos sama dengaan micro cosmos. Cosmos menunjukkan bahwa alam  itu teratur dan di alam itu hukum alam berkuasa. Cosmos bukan chaos atau kekacauan! Hukum apakah yang berlaku dalam macro dan micro cosmos? Alam raya dan alam manusia dikuasai oleh nasib (qadar), yaitu suatu kekuatan gaib yang menguasai macro cosmos dan micro cosmos. Perjalanan alam semesta ditentukan oleh nasib; perjalanan matahari, bulan, bintang, manusia,dsb tidak dapat menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan oleh nasib. Hukum alam yang menjadi dasar segala hukum cosmos ialah hukum lingkaran atau hukum siklus. Setiap kejadian, setiap peristiwa akan terjadi lagi, terulang lagi. Apabila digambarkan seperti gambar di bawah ini:
                        Benih                               Malam                              Musim Hujan

    Berbuah                Tumbuh  Sore                     Pagi     Pancaroba          Pancaroba

                  Berbunga                             Siang                                   Kemarau
                          A                                        B                                          C
Arti hukum siklus iaalah, bahwa setiap kejadian atau peristiwa tertentu akan terulang (sikuls A, B dan C). Seperti matahari tiap pagi terbit, demikian pula setiap peristiwa akan terulang kembali. Oleh karena itu terdapat dalil bahwa di dunia tidak terdapat sesuatu (peristiwa) yang baru, segala sesuatu berulang menurut hukum siklus.

   III.Aliran Syclis[6]
       Ada tiga aliran atau konsepsi pengkajian sejarah yang berpengaruh dalam ilmu sejarah:
1.    Aliran pertama, yang memandang kejadian sejarah (peristiwa) sebagai ulangan (syclis) dari kejadian terdahulu. Perulangan itu terjadai secara mekanis, merupakan lingkaran ulang. Pencerminan dari pandangan pada ucapan: Sejarah berulang (bahasa Perancis): “historie seperete”. Jadi menurut pandangan ini, sejarah tidak mempunyai tujuan dan tidak ada perkembangan. Manusia di dalam sejarah tinggal menunggu perulangan kejadian saja, kurang berikhtiar. Kata mereka, “buat apa berikhtiar, sebab ketentuan telah pasti datang, tingal menunggu saja”.
2.    Aliran Religius (Ketuhanan): yang menafsirkan bahwa segala kejadian dalam sejarah semata-semata karena kehendak tuha. Manusia hanyalah pemegang pranaan dan kehendak tuhan. Aliran ini terutama dalam kalangan Kristen, yang dinamakan aliran: “Rdemtive philosophical viewpoint” pandang sejarah menurut kepercayaan atau dogma” penebusan dosa (bahasa Inggris: To Redam artinya menebus), menuju kearah meningkatkan nilai-kemanusiaa.
3.    Aliran Evolusi, yaitu aliran yang memandang srluruh kejadian dengan panggung sejarah manusia adanya suatu garis yang enaik dan meningkat kearah kemajuan dn kesempurnaan. Gerak sejarah merupakan garis linear, garis lurus menuju ke progress dan prefeksi. Karena itu aliran ini disebut “progressive philosophical viewpoint of history”.
Aliran ni memandang gerak sejarah berpangkal dalam kemajuan (evolusi), yaitu keharusan yang memaksa segala sesuatu untuk maju. Sejarah adalah medan perjuangan manusia, dan cerita sejarah adalah epos perjuangan mencapai kemajuan, Munculnya Karl Max (1818-1883) sebagai pendukang aliran ini melahirkan sifat exstrem, yang menjauhkan dari tuhan dan menambatkan diri [ada hukum ekonomi atau materi.

F.Pandangan/Teori Sejarah
          Pandangan sejarah berpangkal pada perhatian terhadap gerak sejarah masalah yang khusus mengenai manusia. Manusia didalam sejarah berfungsi ganda, sebagai subjek sejarah dan sebagai objek sejarah. Manusia sebagai peran sejarah, sebagai penulis sejarah dan manusia juga selaku minat sejarah, Maka, menafsirkan sejarah, tidak lain daripada memikirkan diri manusia sendiri. Bagaimanakah manusia memandang diri pribadinya? Ada dua pendapat yang pokok:
1.    Manusia bebas menentukan nasib sendiri (otonom), determinisme (bahasa Ingris: To Determine artinya menentukan).
2.    Manusia tidak bebas menentukan nasibnya; nasib manusia ditentukan oleh kekuatan diluar diri pribadinya, tidak otonom. Kekuatan diluar  diri manusia pada umumnya dihubungkan dengan kepercayaan pada keadaan yang menentukan nasib manusia, yakni (a) Tuhan (b) alam sekitar, dan (c) kekuatan x (tidak dikenal).

1.Pandangan Sejarah Menurut Ibn Khaldun[7]
       Ibn Khaldun (1332-1406) adalah seorang serjana arab yang Tersohor, Ia dapat dipandang sebagai ahli Teori ilmu sejarah yang paling pertama. Teorinya didasari pada kehendank tuhan sebagai pangkal gerak sejarah seperti Augustinus, tetapu Ibn Khaldun tidak memusatkan perhatiannya pada akhirat. Baginya sejarah adalah ilmu berdasarkan kenyataan, tujuan sejarah ialah agar manusia sadar akan perubahan-perubahan masyarakat sebagai usaha penyempurnaan perkehidupannya. Agar lebih jelas maka pelajarilah pendapat Ibn Khaldun (An Arab Philosophy of, terjemahan dan suntingan bahasa inggris oleh Chrles Issawi M.A., hlm. 26, 30).
            Dengan tegas Ibn Khaldun menunjukan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat karena qadar tuhan yang, yang terdapat di dalam masyarakat adalah “naluri” untuk berubah. Justru karena perubahan-perubahan itu berupa revolus, pemberontakan, pergantian adat, lembaga dan sebagainya, maka masyarakat dan negara mengalami kemajuan.Manusia dan lembaga yang diciptakan olehnya dapat maju khusus melalui perubahan. Nyatalah bahwa Ibn Khaldun dengan pasti mengemukakan perubahan sebagai dasar kemajuan dan itulah yang disebut teori revolus (teori kemajuan) yang diucapkan oleh Charles Darwin.
            Maka betapa besar perbedaan yang terdapat antara teori Augustinus dengan teori Ibn Khaldun tampak dari tujuan terakhir. Augustinus mengakhiri sejarah dengan dwitunggal sorga-neraka, bagi Ibn Khaldun sejarah enuju ke arah timbulnya beraneka warna masyarakat, negara dengan manusianya. Bukan negara dan sebagainya yang beraneka warna bertaraf rendah tetapi bermacam-macam bentuk kemasyarakatan dan kenegaraan dan manusia yang menuju kearah kesempurnaan hidup
            Teori Augustinus menciptakan manusia menyerah, teori Ibn Khaldun mendidik manusia menjadi pejuang yang tak kenal mundur, Puncak gerak sejarah baginya adalah umat manusia bahagia denhan beraneka masyarakat, negara dan kesatuan hidup lainnya yang sempurna “bhineka tunggal ika” satu umat manusia dengan corak ragam yang serasi dan sempurna.
2.Menurut Pitirim A. Sorokin
            Seorang ahli sosiologi Rusia yang pinda ke Amerika Serikat. Ia merupakan penganut Teori Siklus. Ia berpandangan bahwa semua bahwa peradaban besar di dunia berada dalam siklus 3 sistem ebudayaan yang berputar tanpa akhir, yaitu kebudayaan Ideasional. Didasari oleh nilai dan kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural). Kebudayaan Idealistis. Perpaduan antar unsur kepercayaan terhadap unsur adikodrati dan rasionalita berdasar fakta dan membentuk masyarakat ideal.
            Kebudayaan sensasi menjadi tolak ukur dan kenyataan dan tujuan hidup. Dalam “social and Cultural Dynamics”. Sorokin menila peradaban modern adalah peradaban yang rapuh dan tidak lama lagi akan runtuh dan selanjutnya menjadi kebudayyan Ideasional yang baru. Dalam suatu perubahan yang terpenting adalah tentang proses sosial yang saling berkaitan. Sorokin juga memberikan pengertian tentang proses sosial yaitu sebuah perubahan suyek tertentu dalam perjalanan waktu, entah itu perubahan tenpatnya dalam ruang atau modifikasi aspek kuantitatif atau kualitatifnya.
3.Teori Sejarah Menurut William H. Frederick[8]
       Dia mengemukakan tiga teori sejarah, yaitu:
1.    Teori perputaran yang mengatakan bahwa perputaran kejadian dan ide mengenai manusia terbatas sama sekali dan pada selang-selang tertentu.
2.    Teori takdir yang menganggap bahwa semua sebab-penyebab berasal dari ikut campurnya takdir atau Allah.
3.    Teori kemajuan, yang berpustkan pada sebab-penyebab kejadian mengenai manusia, dan selanjutnya bahwa dengan berlakunya waktu, peadaban manusia dengan keseluruhan secara otomatis mengalami perbaikan, (1984; 12)
Tiga teori sejarah yang dikemukakan Frederick diatas sesuai dengan aliran atau konsepsi penglihatan sejarawan yang bepengaruh dalam ilmu sejarah, yaitu:
1.    Aliran yang memandang seluruh kejadian dalam sejarah itu semata-mata sebagai ulangan belaka dari kejadia-kejadian dulu.
2.    Alirann yang menafsirkan segala kejadian yang ada dalam sejarah itu semata-mata sebagai kehendak Tuhan, diantara manusia dalam panggung sejarah itu menjalankan sekedar peranan penebus dosa belaka, menuju kearah peningkatan nilai-nilai kemanusiaan.
3.    Aliran yang melihat seluruh kejadia-kejadian dalam panggung sejarah kemanusiaan itu adalah sesuatu garis yang menaik dan meningkat ke arah kemajuan dan kesempurnaan dan memandang sejarah sebagai garis linear, garis lurus menuju rogres dan prefeksi (Abdulgani, 1963: 22).

G.Fungsi Sejarah
      Adapun fungsi teori-teori itu antara lain seperti dikemukakan oleh:
1.    Prof. Dr. Soejono, SH,. Sebagai berikut:
a.    Sebuah teori berguna untuk lebih mempertajam atau mengkhususkan fakta yang hendak diteliti atau diuji kebenarannya.
b.    Teori sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakt, membina struktur konsep-konsep serta mengembangkan definisi
c.    Teori bisa merupakan suatu ikhtisar dari suatu hal-hal yang telah diketahui serta telah diuji kebenarannya yang menyangkut obyek yang akan diteliti.
d.    Teori memberikan kemungkinan kepada prediksi kejadian atau peristiwa mendatang, karena telah diketahui sebab-sebabnya dan diramalkan akan terjadi kembali.
e.    Teori memberikan petunjuk-petunjuk kekurangan kepada penelitinya
Stuart A. Schlegel menyebutkan bahwa sifat penguraian teoritas dalam ilmu pengetahuan sangat erat hubungannya dengan generelisasi. Sebuah teori menjelaskan fenomena atau peristiwa yang digambarkan. Teori melaksanakannya dengan menunjuk bagian-bagian kondisi yang sungguh berarti dengan menghubungkan satu bagian dengan lainnya[9].

I.Penutup
      Uraian tentang cerita sejarah pada umumnya hanya memberikan sekedar penjelasan. Penjelasan itu hanya sekadar memberikan pengertian tentang sejarah agar dapat dimengerti bahwa sejarah itu suatu ilmu yang mulia. Masalah manusia adalah masalah sejarah. Setelah memiliki sekadar pengetahuan tentang ilmu sejarah, maka kesadaran manusia tentang sejarah dapat diperjuangkan untuk membangkitkan semangat juang bagi kepentingan bangsa dan negara.








DAFTAR PUSTAKA

v Ali, Muhamad, Pengantar Ilmu Sejarah,Pelangi Aksara, 2005.
v Burke, Peter, Sejarah dan Teori Sosial, a.b. Mestika Zad dan Zulfani, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
v Gottschalk, Louis, Mengerti Sejarah, a.bb. Nugroho Notosusanto, UI-Press, Jakarta, 1985
v Schlegel, A.. Grounded Research dalam Ilmu-Ilmu Sosial, IAIN Sunan Kalijaga, Yoyakarta, 1983
v Tamburak, E., Rustam, Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan Iptek, Rineka Cipta, Jakarta, 1999.


[1] Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, a.b. Mestika Zed dan Zulfahmi,  Yayasan Obor Indonesia, (Jakarta, 2003) hal. 2.
[2] Ibid., hlm. 4
[3] Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, a.b. Mestika Zed dan Zulfami,  Yayasan Obor Indonesia, (Jakarta, 2003) hal. 2-3.
[4] Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan Iptek, Rinke Cipta, (Jakarta, 1999) hal. 50.
[5] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terj. Nugroho Notodtusanto, Uinversita Indonesia (UI-pers), (Jakarta, 1985) hal.  168.
[6] Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu SejarahTeori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan Iptek, Rinke Cipta, (Jakarta, 1999), hal. 54
[7] R. Moh. Ali, Pengantar Ilmu Sejarah, LKS Pelangi Aksara, 2005, hal. 85
[8] Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu SejarahTeori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan Iptek, Rinke Cipta, (Jakarta, 1999), hal. 76
[9] A. Schlegel, Gruanded Research di dalam Ilmu-Ilmu Sosial, Lembaga Research dan Survey IAIN Sunan Kalijaga, (Yogyakarta, 1983), hal. 12




Digital clock